layang-layang
Aku diciptakan disebuah dusun kecil di Pulau Dewata, aku dibuat oleh tangan handal seorang seniman, tidak ada hal yang lebih indah saat aku terbang tinggi di angkasa menari bersama awan dan burung-burung kecil di pantai. Aku sangat bahagia melihat seniman itu meraut bambu sebagai rangkaku, dan memilih kertas minyak terbaik sebagai mantelku. Aku berpikir, sungguh bahagia diciptakan olehnya. Aku dibuat dengan penuh cinta, dan penuh perhitungan. Sangat teliti sekali seniman ini, mantelku dihias sedemikan rupa, sangat cantik, namun ketika sudah hampir selesai datanglah seorang pria yang ingin membeli layang-layang, "berapa harga layang-layang ini", tanyanya, sang seniman diam dan tetap tekun menghiasku. "hai, aku bertanya padamu, berapa harga layang-layang yang kau buat ini?", "tidak kujual," kata sang seniman sambil tersenyum, " benda ini aku buat dengan sepenuh hati, dan ini hanya satu didunia ini, hanya seseorang yang tepatlah yang dapat memilikinya," ujar sang seniman, aku merasa sangat bahagia kala sang seniman berkata demikian, aku merasa dia betul-betul tulus menjaga dan melindungiku. Aku selalu dibawa bersamanya, setiap sore dia selalu memainkanku di tepi pantai,, entah pantai apa namanya, aku pun tak tau. Saat meladang disawah, aku ditinggalkan dirumah, agar aman katanya. Sampai suatu ketika, saat sang seniman sedang memainkanku seorang pria muda lewat dan menyapa sang seniman, "bapak, bolehkah saya memainkan layang-layang cantik ini?", sang seniman awalnya ragu, namun pria ini terlihat baik dan meyakinkan sehingga seniman tersebut rela melepaskanku dan membiarkan pria muda ini memainkanku, "tolong jaga dia baik-baik, aku sudah tua, layang-layang ini hanya untuk seseorang yang pantas", ujarnya pada sang pemuda. "bolehkah saya memilikinya?", ujar sang pemuda. "tentu saja, karna takdirlah yang membawamu kesini dan mempertemukanmu dengan layang-layang ini".
Sang pemuda sangat bahagia dan membawaku pulang kerumahnya, selama beberapa bulan dia terus mengajakku bermain dan sangat bangga karna kecantikanku juga kepiawaianku menari diatas awan. Sampai suatu ketika, benang pengikatku putus dan menerbangkanku jauh sekali, kemudian menghilang. Namun pemuda tersebut tampaknya hanya diam dan tidak berusaha mengejarku. Aku jatuh, aku pikir pemuda ini pantas memilikiku, namun ternyata dia melepasku begitu saja. Sampai suatu ketika, aku berusaha melawan arus angin menuju tempat sang pemuda biasa bermain bersamaku. Apa yang kulihat membuatku ingin menangis, dia telah memiliki layang-layang lain dan bermain bersamanya. Aku kecewa dan terjatuh dari langit, entah dimana.
Beberapa bulan telah berlalu, mantelku telah koyak dan bambu penyusunku telah patah, aku merasa tidak berguna lagi. Tetapi dibalik semua kesulitan yang aku alami, Tuhan masih menyayangiku, beberapa gadis lewat dan menemukanku, terkait pada salah satu bambu di hutan. Mereka membawaku dan memperbaiki mantelku, menghiasku sehingga aku merasa cantik kembali. Mereka bermain bersamaku, merawatku dengan baik. Sampai suatu ketika aku bertemu lagi dengan sang pemuda, dia kembali tertarik kepadaku, katanya sudah bosan dengan layang-layangnya, dan merasa bahwa akulah layang-layang terbaik. Aku kembali terhanyut, percaya pada kata-katanya, para gadis itupun ikut percaya dan memberikanku pada sang pemuda. Yah, kami terpesona pada pemuda itu. Pemuda itu meminta maaf dan kembali bermain denganku, lalu, tanpa aku sadari, dia berbohong padaku, dia tertarik pada layang-layang lain yang lebih indah dan lebih cantik dariku, entah sengaja atau tidak, dia mulai meletakkanku dan mulai melupakanku dan bermain dengan layang-layang barunya. Sungguh asik melihat mereka bermain, tanpa ada beban, dan tanpa melirikku sama sekali. Aku kembali jatuh, ternyata menjadi sebuah layang-layang adalah hal sulit, dan aku mencoba melepaskan diri saja, ku genggam angin dengan erat dan melepas benang pengikatku, aku lepas.. yah aku lepas dari sang pemuda. Disinilah aku sekarang, menuju langit di angkasa, ingin bertemu saja dengan sang seniman..tak ingin lagi bersama dengan pemuda itu, yang berdusta dan mempermainkan diriku.
